Ihya Ulumiddin - Pengantar al-Imam al-Ghazali/Prologue from al-Imam al-Ghazali
Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Kami memuji Allah Swt. dengan pujian yang utama, pujian yang maksimal, dan kami lakukan sepenuh jiwa. Meski sesungguhnya, segala bentuk puja puji yang hamba haturkan ke hadirat Allah nilainya tidak akan pernah bisa berbanding dengan kemulian Allah yang sejati. Shalawat beserta salam tak lupa pula kami haturkan kepada junjungan alam, Nabi akhir zaman, Muhammad Saw. ,penghulu para Nabi dan Rasul, serta sebaik-baik ciptaan.
Selanjutnya, kami memohon kebaikan amalan kami ini hanya kepada Allah Swt. ,karena Dia telah menganugerahkan kekuatan kepada kami untuk bisa menuliskan kalimat demi kalimat yang "menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama" (Ihya Ulumiddin).
Selain itu, kami sampaikan khusus kepada mereka yang gemar menebar keresahan (fitnah), orang-orang yang lalai dalam urusan agama, orang yang suka menolak kebenaran(sombong), bahwa segala puji bagi Allah Swt. yang telah menyingkirkan dari lidah saya belenggu kekeluan dan mengalungkan di leher saya kefasihan argumen serta alasan. Kewajiban saya melalui kitab ini adalah menjawab pertanyaan dan sanggahan yang kalian kemukakan. Dengan kata lain, kalian telah menutup mata dari kebenaran yang sangat gamblang, dan kalian meminta pertolongan kepada sesuatu yang hampa lagi tak bernilai. Juga kalian lebih menghargai kebodohan daripada kecerdasan.
Jika seorang ingin membersihkan praktik-praktik dan kebiasaan-kebiasaan buruk, atau berkeinginan dengan sangat kuat untuk mengamalkan ilmu serta pengetahuannya kedalam amal dengan maksud agar Allah Swt. Yang Maha Kuasa berkenan menyucikan jiwanya, silahkan ia tetap terlibat dan terpelihara didalam pengabdian dan ibadah kepada-Nya, kemudian bertobat dari segala bentuk dosa serta kekhilafan yang dilakukannya pada masa lalu. Biarkan ia tetap menjauh dari kumpulan orang yang disebut Rasulullah Saw. dalam sabdanya,
"Hukuman terbesar pada Hari Kebangkitan nanti akan dijatuhkan atas orang berilmu yang tidak memperoleh manfaat dari ilmunya." (diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani dalam al-Shaghir, juga oleh Imam al-Baihaqi dalam Syubah al-Iman dari hadits Abu Hurairah RA. berisnad Lemah.)Saya sangat yakin, tidak ada alasan bagi kalian untuk tidak menerima kebenaran dari apa yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini. Yaitu, penyakit yang kerap menghinggapi pikiran kebanyakan orang, juga mungkin akan melanda pikiran kalian. Dengan kata lain, mereka telah mengabaikan ketentuan dan aturan untuk meraih derajat yang mulia di Hari Kemudian (Kiamat). Sangat jarang diantara mereka yang menyadari, bahwa persoalan yang menyangkut masalah ini sangat serius dan sekaligus dikelilingi oleh cobaan yang siap menghadang. Hari Kiamat pasti akan datang, dan dunia ini akan segera ditinggalkan. Kematian akan segera menjelang, dan perjalanan yang pasti ditempuh kemudian akan sangat panjang. Persyaratan yang dibutuhkan sungguh sangat berat, dan bahaya didepan kita sangat besar menghadang. Akan tetapi, pintu dan jalan yang tersedia jangan sampai kita biarkan tertutup.
Ilmu dan amal yang tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan Allah Swt. patut kiranya dijauhi sepenuhnya oleh orang-orang arif dan siapa saja yang mencari kearifan. Akan sangat sulit bagi seorang penempuh jalan menuju akhirat bila ditengah-tengah perjalanan menapaki jalan itu masih ada unsur-unsur yang merusak dan sangat menyakitkan. Sedangkan di kanan kirinya, seolah tidak tersedia perangkat maupun alat untuk melewatinya.
Orang yang berilmu adalah mereka yang menjadi pembimbing menuju jalan dimaksud. Sebab, mereka adalah pewaris para Nabi. Sebagian besar waktu telah mereka habiskan untuk mereguknya (ilmu). Sementara orang-orang yang menjadi budak kebiasaan jahat dan menyia-nyiakan waktu juga tetap hidup ; meski dalam kehampaan nilai kesejatian. Adapun setan, berkuasa atas mayoritas manusia jenis terakhir ini, dan berbagai jenis dosa telah menyesatkan kehidupan mareka.
Mayoritas mereka yang telah dikuasai oleh tipu daya setan terlena dan lalai dalam gemerlapnya hidup di dunia ini, serta kesenangan dan kenikmatan semu yang melingkupinya. Oleh karena alasan itu pula mereka memandang yang baik sebagai keburukan, dan sebaliknya yang buruk sebagai kebaikan. Bahkan, ilmu-ilmu agama mereka anggap sebagai barang usang yang pantas dijauhi. Cahaya petunjuk hampir lenyap dari muka bumi mereka.
Sebagian ulama memaksakan kehendak pribadi kepada masyarakat umum agar meyakini bahwa tidak ada ilmu lain selain yang biasa dianggap (berkaitan) dengan dimensi hukum (ilmu fikih). Menurut pemahaman mereka, ilmu hukum adalah satu-satunya yang bisa membantu para hakim dalam menegakkan keadilan dan membantu penguasa dalam mengatur urusan negara. Sebagian lagi berpendapat, bahwa tidak ada ilmu kecuali ditinjau dari dimensi debat (jadal). Mereka sangat mengharapkan kemenangan dirinya atas lawan dan mencari alat untuk membuat lawan itu terdiam. Atau, memberitahu kepada umat bahwa tidak ada ilmu lain kecuali ilmu kalam yang dengannya seseorang bisa mempengaruhi pikiran banyak orang dengan sekehendaknya sendiri. Mereka tidak melihat keberadaan ilmu lain selain ketiga ilmu ini.
Adapun ilmu-ilmu mengenai urusan akhirat dan ilmu-ilmu yang mengandung hikmah; sebagaimana yang pernah ditempuh oleh para Salaf yang shalih pada masa-masa awal kejayaan Islam, sebagian besarnya telah terasa asing bagi umat Islam saat ini. Ilmu-ilmu dimaksud telah digambarkan Allah Swt. di dalam Kitab Suci-Nya dengan sebutan fikih, hikmah, ilmu tauhid, cahaya dan petunjuk. Kesemua ilmu itu seolah hanyut dari relung terdalam sanubari umat ini akibat kelalaian mereka.
Dalam kondisi pemahaman umat atas agama yang kian merosot seperti itulah saya berpikir, bahwa telah tiba saatnya saya menulis buku yang saya beri judul Ihya Ulumiddin (Membangkitkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama). Dengan buku ini, jalan para ahli hikmah Islam pada masa awal datangnya dahulu terbuka kembali bagi mereka, dan hambatan-hambatan yang menghalangi orang mereguk ilmu-ilmu para Nabi serta Orang-orang Shalih segera disingkirkan.
Saya membagi buku Ihya Ulumiddin menjadi empat bagian.
Pertama, bahasan mengenai Ibadah.
Kedua, bahasan di seputar Urusan Dunia atau pekerjaan sehari-hari.
Ketiga, bahasan tentang Kejahatan yang Merusak atau perbuatan yang membinasakan. dan,
Keempat, bahasan mengenai Kebajikan yang Membangun atau perbuatan yang menyelamatkan. Dari keempat bahasan tersebut, saya memulai dengan membahas seputar Ilmu atau pengetahuan agama. Sebab, Ilmu atau pengetahuan amat sangat penting posisinya. Mengawali pembahasan mengenai Ilmu agama sungguh sangat diperlukan. Sebab, ilmu merupakan alat dan sarana pokok untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah Swt. sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw.
Comments
Post a Comment