Posts

Ihya Ulumiddin - Pengantar al-Imam al-Ghazali/Prologue from al-Imam al-Ghazali

Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Kami memuji Allah Swt. dengan pujian yang utama, pujian yang maksimal, dan kami lakukan sepenuh jiwa. Meski sesungguhnya, segala bentuk puja puji yang hamba haturkan ke hadirat Allah nilainya tidak akan pernah bisa berbanding dengan kemulian Allah yang sejati. Shalawat beserta salam tak lupa pula kami haturkan kepada junjungan alam, Nabi akhir zaman, Muhammad Saw. ,penghulu para Nabi dan Rasul, serta sebaik-baik ciptaan. Selanjutnya, kami memohon kebaikan amalan kami ini hanya kepada Allah Swt. ,karena Dia telah menganugerahkan kekuatan kepada kami untuk bisa menuliskan kalimat demi kalimat yang "menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama" (Ihya Ulumiddin). Selain itu, kami sampaikan khusus kepada mereka yang gemar menebar keresahan (fitnah), orang-orang yang lalai dalam urusan agama, orang yang suka menolak kebenaran(sombong), bahwa segala puji bagi Allah Swt. yang telah menyingkirkan dari lidah saya belenggu kekelu...

Pokok Bahasan Kitab Ihya Ulumiddin/Highlights of the Book of Ihya Ulumuddin

Dr. Badawi pernah menyampaikan, bahwa kitab Ihya Ulumiddin ini pada dasarnya terbagi menjadi tiga bahasan pokok, yaitu : al-Aqliyyah al-Syar'iyyah, al-Aqliyyah al-Falsafiyyah, dan al-Aqliyyah al-Shuffiyyah. Al-Aqliyyah al-Syar'iyyah Pokok bahasan dari Al-Aqliyyah al-Syar'iyyah oleh al-Imam al-Ghazali disarikan dari hukum-hukum yang berkaitan dengan persoalan fikih dan ushulnya, yang itu dinukilkan dari sumber islam terbesar, Al-Qur'an al-Karim, hadits-hadits Rasulullah Saw. , perkataan (atsar)  para sahabat Rasulullah Saw. , perkataan para tabi'in, serta disarikan dari pendapat para Imam Madzhab yang diridhai Allah Swt. Ditambahkan pula dari perkataan para ahli fikih, ulama syari'ah, ulama hadits dan ta'wil. Meski demikian, kesemua itu tidak menyimpang dari keempat sandaran hukum pokok utama dalam Islam, yaitu Al-Qur'an al-Karim, hadits-hadits Rasulullah Saw. ,perkataan (atsar) para sahabat Rasulullah Saw. , dan ijma' ulama yang diridhai Allah S...

Kehidupan Keilmuan al-Imam al-Ghazali/The Scientific Life of al-Imam al-Ghazali

Kehidupan al-Imam al-Ghazali dan adiknya ,Ahmad al-Ghazali yang ahli tasawuf itu dikelilingi oleh kebersahajaan dan dihiasi kesederhanaan. Wasiat mendiang sang Ayah selalu dipegang teguh keduanya serta diwujudkan dalam takaran maksimal. Kegigihan keduanya dalam menuntut ilmu menjadikan kehidupan ekonomi al-Imam berada tataran kurang terperhatikan. Keduanya lebih memprioritaskan kebutuhan ruhani berupa ilmu ketimbang makanan ataupun segala sesuatu yang bersifat kebendaan dan keduniaan. Gemerlap perhiasan dunia sangatlah jauh dari kehidupan kedua saudara sekandung itu. Hari-hari mereka diisi dengan menuntut ilmu, pagi maupun petang. Sampai akhirnya kedua pemuda yatim tersebut berhasil mengisi kebutuhan ruhani mereka, sesuai harapan sang Ayah, dalam kebersahajaan hidup.Sebagaimana kalimat indah yang pernah dirangkai al-Ghazali dalam menggambarkan perjalanan kehidupannya meniti ilmu, "Titian ilmu yang kami jalani hanyalah apa yang dapat menyampaikan kami kehadirat Allah ...